contoh Penulisan Wawancara Wartawan dengan Narasumber.

wawancara selengkapnya, yang disampaikannya kepada Muhammad Syahrum,ST.,MH.

Drs.Wahyudi El Penggabean, Directur PJC:

Kemiskinan Harus Melahirkan Kreativitas


Lembaga Pendidikan wartawan Pekanbaru Journalist Center, baru-baru ini merayakan HUT Ke-2. Sebuah acara sangat sederhana, tetapi kreatif. Menganugerahkan PJC Award 2009 kepada wartawan alumni PJC. Menyelenggarakan lomba menulis berita, lomba penyajian makalah bagi siswa dan alumni PJC. Juga lomba menulis reportase bagi siswa SLTA se-Pekanbaru-Kampar. Serta mengunjungi  Panti Asuhan.

“Kita harus mampu melahirkan kreativitas di tengah keterbatasan kita,” Ujar Direktur PJC, Drs.Wahyudi El Panggabean, kelahiran Batangtoru, 09 Mei 1964. Sebagai pendiri dan pengelola PJC, Wahyudi, ayah tiga anak ini, memang unik. Lembaga ini, dia dirikan bersama istrinya Asmanidar H. Zainal,S.H. Mereka berdua menjadi pengajar tetap lembaga yang bermisikan: Profesionalisme dan Integritas itu.

Wahyudi yang sudah malang melintang di dunia pers, juga dosen Bahasa Jurnalistik di FKIP Universitas Islam Riau itu, terus membina PJC, tanpa bantuan pemerintah. Saat ini PJC memasuki belajar Angkatan VII.”Inilah kebanggaan kita, mendidik para calon wartawan ditengah keterbatasan sarana, “ Ujar penulis 5 judul buku, alumni Biologi FKIP Universitas Riau, tahun 1990 itu. Berikut wawancara selengkapnya, yang disampaikannya kepada Muhammad Syahrum,ST.,MH.


Di hari Ulang Tahun PJC ke-2 kemaren, ada penganugrahan PJC Award, apa yang Anda harapkan dari acara itu?

Semenjak berdiri 12 Februari 2007 silam PJC sudah memproduk lulusan sekitar 150 orang. Alhamdulillah, 75 di antaranya sudah bekerja sebagai wartawan berbagai media cetak terbitan Riau. Ini suatu kebanggaan. Tetapi, sebagai seorang guru tentu saja saya tidak mungkin melepas para lulusan begitu saja. Karena, PJC memiliki Misi, “Menciptakan wartawan Profesional dan memiliki Integritas”. Kalau hanya wartawan professional, saya rasa sudah banyak. untuk mendukung misi itulah saya menganugrahkan PJC Award kepada salah seorang wartawan lulusan PJC. Jadi, PJC Award itu diserahkan secara independen tanpa embel-embel, kepentingan atau keperpihakan. Saya harap, PJC Award mampu memotivasi para wartawan lulusan PJC.  Yang berhasil meraih, PJC Award itu, Bambang Hermanto angkatan Pertama PJC sekarang bekerja sebagai wartawan Pekanbaru MX. 

Kenapa PJC tidak menggalang dana dari APBD, bukankah lembaga ini sudah turut membantu tugas-tugas Pemerintah?

Secara logika siapa sih tidak menginginkan uang? Apa lagi, APBD bersumber dari rakyat. Jika PJC dibantu diAPBD, distribusi dananya juga jelas: “untuk membantu pendidikan yang menciptakan wartawan Profesional dan memiliki integritas”. Artinya, termasuk pencerdasan juga ‘kan? Sekaligus mendukung peran pemerintah Propinsi melalui Program K2I. Masalahnya, dalam praktiknya untuk masuk dalam APBD itu juga tidak gampang. Kenapa saya katakana begitu? Karena saya sudah mencoba, tapi hasilnya kosong. Akhirnya, saya berkesimpulan:  saya atau lembaga ini belum layak dibantu. Padahal, pengajuan itu sesuai anjuran Dewan Pers kepada saya. Wakil ketua Dewan Pers Drs.leo Batubara secara lansung meminta saya minta bantuan dalam APBD Riau.



Anda tadi mengatakan pernah mengajukan di dalam APBD. Kapan dan bagaimana cara anda mengajukannya?

Saya mengajukan pada APBD  Riau tahun 2008-2009. Pada saat itu, saya membuat program bantuan untuk penopang dana pendidikan wartawan secara gratis kepada seratus orang sarjana dari berbagai daerah di Riau. mereka akan dididik selama 4 bulan gratis. APBD akan menanggulangi dananya. Berarti programnya sangat jelas. Tapi ternyata, pengajuan itu tidak digubris, dianulir dalam APBD. Ada lagi, seorang teman, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau meminta saya, agar PJC mengajukan bantuan di APBD Riau. Dia jamin pengajuan itu akan gol atau lulus. Tapi dia meminta setengah dana itu untuk dia. Semantara pertanggungjawaban sepenuhnya saya. Saya kira itu sama penipuan.

Di usia menjelang 45 tahun Anda masih sempat-sempatnya kuliah di S2, apa sebenarnya yang anda kejar?

Saya berprinsip seorang guru harus terus menambah ilmunya kalau tidak dia akan mengalami kekeringan Ilmu. Saya kuliah di Pasca Ilmu Hukum semata-mata ingin mendalami Ilmu hukum  sesuai dengan Profesi yang saya jalani  sekarang, sebagai seorang Jurnalistik, karena sangat sedikit orang di Indonesia yang menekuni Ilmu  hukum pers. Untuk itu, sekarang saya sedang mempersiapkan thesis berjudul, “Implementasi Kemerdekaan Pers dalam Prespektif UU No.40 Tahun 1999”. Melalui thesis ini saya berharap bisa melihat lebih dalam dan lebih jernih tentang kemerdekaan Pers dan kemerdekaan wartawan dalam berprofesi, berkreasi sebagaimana diamanahkan undang-undang itu. Sebab, saya melihat pengekangan terhadap kemerdekaan wartawan sekarang jauh lebih parah ketimbang di masa Orde Baru 

Kenapa Anda katakan begitu?

Coba Anda bayangkan, hampir semua media-media besar, halaman-halaman korannya telah dibelii oleh Pemerintah melalui dana rakyat lewat APBD. Nah, itulah yang disebut dengan kontrak halaman. Pertanyaannya:  Apakah mungkin seorang wartawan masih memiliki kemerdekaan untuk menulis dan memberitakan penyimpangan yang dilakukan seorang kepala daerah, sementara media tempatnya bekerja sudah mengikat kerja sama dengan kepala daerah bersangkutan? Dalam konteks inilah saya melihat wartawan di era reformasi ini benar-benar terjajah.


Bagaimana idealnya seorang wartawan menurut anda?

Seorang wartawan adalah seoarang yang memiliki kemerdekaan dan kebebasan, seperti yang diamanahkan undang-undang pers No.40 tahun 1999. Itu artinya, mereka harus mendapatkan penghasilan, gaji yang layak dari media tempat mereka bekerja. Dan tidak menjadi pengemis yang selalu mengharapkan belas kasih narasumber. Untuk itu, bicara wartawan cara ideal, berarti kita bicara soal moral. Sekecil apapun gaji yang dia terima dari medianya akan halal baginya, untuk menghidupi anak istrinya. Tetapi sebesar apapun pemberian narasumber,  mengikat atau tidak, akan menjadi duri, karena wartawan tidak hidup dari uluran tangan masyarakat.


Kabarnya Anda pernah dekat dengan kekuasaan. Bukankah itu bisa membantu misi pendidikan yang Anda jalankan?

Terus terang, kedekatan saya pada waktu itu, hanya pada tahap hubungan wartawan dengan narasumber. saya akui, saya juga pernah dibantu untuk kepentingan, kreativitas, iklan, pencetakan buku dan sebagainya. Namun, saya kira hubungan yang dibangun antara wartawan dengan kekuasaan tidak pernah langgeng sepanjang masing-masing pihak mempertahankan eksistensinya. Katakanlah saya pernah dekat dengan Gubernur Riau, tetapi ketika kedekatan itu manuntut hal macam-macam tetap saja masing-masing pihak tidak bisa memenuhinya. Saat itulah, hubungan menjarak. Sebab saya percaya sebuah ungkapan, “tidak ada kawan dan lawan abadi, yang abadi hanya kepentingan”. Nah, kembali kepada soal lembaga PJC, saya kira penguasa di daerah ini juga tahu kiprah yang dijalankan PJC. Bulan maret kemaren saya mengirimkan surat kepada Gubernur Riau, mana tahu acara HUT PJC bisa dibantu. Tetapi, surat itu sama sekali tidak digubris.


Apa sebenarnya cita-cita Anda?

Saya hanya ingin menjadi seorang yang mampu memberi kontribusi terhadap perbaikan nasib wartawan. Menurut saya, sepanjang kita iklhas dan mau bekerja keras, keterbatasan-keterbatasan, tidak akan menghalangi kita. Maksudnya, banyak orang membuktikan: kemiskinan dijadikan sebagai motivasi untuk berjuang dan berbuat yang bermanfaat demi kepentingan sesama. Kalau harus menunggu pasilitas cukup, kapan kita berbuat?


Komentar

calender News

Postingan populer dari blog ini

Fungsi Wewenang Bawaslu

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (CIVIC EDUCATION)